Kamis, 06 April 2017

K3 Faktor Penyebab Kebakaran dan Penanggulangannya



MAKALAH
Faktor Penyebab Kebakaran dan Penanggulangannya

Nurwahyudi


KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena Rahmat dan PertolonganNya kami dapat menyelesaikan Makalah ini.
Kami menyelesaikan sebuah makalah yang berisi apa saja Faktor Penyebab Kebakaran dan Bagaimana saja cara Penanggulangannya. Karena itu kami harapkan agar kiranya Makalah ini dapat menjadi suatu hal yang positif dan dapat menjadi panduan dan pedoman di kehidupan sehari-hari kita semua.
Dalam penerapannya, kami sangat mengharapkan dukungan dan bantuan anda semua agar makalah ini dapat berperan penting dalam kegiatan sehari-hari kita semua dalam melakukan pekerjaan, terutama terhadap sesuatu yang berbahaya yaitu “Api”.
Kami juga mengharapkan peran serta dari seluruh Masyarakat untuk memberikan dukungan dalam makalah yang berisi Penanggulangan kebakaran ini, terutama bagi yang bekerja di sebuah Perusahaan Industrial.
Semoga apa yang kami lakukan dapat menjadi hal yang membawa  dampak baik bagi seluruh Masyarakat Indonesia.
                                                                                                 



Indramayu, 29 September 2014
Penulis,                                   



Tim Penulis


DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..........................................................................................................   1
KATA PENGANTAR........................................................................................................   2
DAFTAR ISI .....................................................................................................................   3
BAB I – PENDAHULUAN................................................................................................   4
          Latar Belakang............................................................................................................   4
          Rumusan Masalah........................................................................................................   5
          Tujuan.........................................................................................................................   5
BAB II – PEMBAHASAN.................................................................................................   6
          Pengertian....................................................................................................................   6
          Pengetahuan Dasar Api ...............................................................................................   8
          Klasifikasi Kebakaran/Pengelompokkan Kebakaran.....................................................   10
          Faktor penyebab terjadinya kebakaran.........................................................................   12
          Proses Terjadinya Kebakaran......................................................................................   14
          Pola Meluasnya Kebakaran.........................................................................................   15
          Bahaya dan Dampak Kebakaran .................................................................................   18
          Mencegah dan Menanggulangi Kebakaran....................................................................   19
          Teori Cara Pemadaman Api ........................................................................................   23
          Media Pemadaman Api................................................................................................   23
          Alat Pemadam, Karakteristik dan Sifat Pemadamannya................................................   26
BAB III – PENUTUP.........................................................................................................   30
          Kesimpulan .................................................................................................................   30
          Saran ..........................................................................................................................   30
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................   31


BAB I – PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
                  Kebakaran adalah suatu peristiwa yang terjadi  akibat tidak terkendalinya sumber energi. Siklus ini  berisi rangkaian demi rangkaian panjang peristiwa (event dinamic) yang dimulai dari pra kejadian, kejadian dan siklusnya serta konsekuensi yang mengiringinya. Kejadian tersebut akan tercipta apabila kondisi dan beberapa  syarat pencetusnya  terpenuhi, utamanya pada saat  pra kejadian.
                  Kebakaran selalu menelan banyak kerugian baik moril, materil bahkan sering kali juga keselamatan manusia. Bila kebakaran tersebut menimpa fasilitas publik misalnya Pasar, Pabrik Industri, Gedung Swalayan, Perumahan dan lain sebagainya maka yang menderita kerugian tentu masyarakat banyak. Di lihat dari segi rehabilitasi fasilitas maka kecelakaan akibat kebakaran memerlukan waktu yang relatif lama belum lagi kerugian yang mustahil direcoveri seperti arsip, barang antic, sertifikat dan lain sebagainya. Oleh karena itu mencegah terjadinya kebakaran merupakan pilihan utama dalam teknologi penanggulangan kebakaran. Dari sisi legal formal disebutkan dalam UU No. 1 Tahun 1970 “Dengan perundangan ditetapkan persyaratan keselamatan kerja untuk mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran”. Kemudian diikuti dengan peraturan lain misalnya: Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.186/MEN/1999 Tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja dan lain sebabagainya menyebutkan dalam Pasal ayat 1 “Pengurus atau Perusahaan wajib mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, menyelenggarakan latihan penganggulangan kebakaran di tempat kerja”.
                        Kebakaran merupakan kejadian yang tidak diinginkan bagi setiap orang dan kecelakaan yang berakibat fatal. Kebakaran ini dapat mengakibatkan suatu kerugian yang sangat besar baik kerugian materil maupun kerugian immateriil. Sebagai contoh kerugian nyawa, harta, dan terhentinya proses atau jalannya suatu produksi/aktivitas, jika tidak ditangani dengan segera, maka akan berdampak bagi penghuninya. Jika terjadi kebakaran orang-orang akan sibuk sendiri, mereka lebih mengutamakan menyelamatkan barang-barang pribadi daripada menghentikan sumber bahaya terjadinya kebakaran, hal ini sangat disayangkan karena dengan keadaan yang seperti ini maka terjadinya kebakaran akan bertambah besar. Dengan adanya perkembangan dan kemajuan pembangunan yang semakin pesat, resiko terjadinya kebakaran semakin meningkat. Penduduk semakin padat, pembangunan gedung-gedung perkantoran, kawasan perumahan, industri yang semakin berkembang sehingga menimbulkan kerawanan dan apabila terjadi kebakaran membutuhkan penanganan secara khusus.


1.2         Rumusan Masalah
1)      Apa yang dimaksud api dan kebakaran?
2)      Apakah yang dimaksud dengan mencegah dan menanggulangi kebakaran?
3)      Apakah potensi/penyebab kebakaran itu?
4)      Bagaimanakah cara mencegah kebakaran?
1.3         Tujuan
a)      Menjelaskan pengertian api dan kebakaran
b)      Menyebutkan dan menjelaskan tentang unsur-unsur api serta pemadamannya dan proses terjadinya api
c)      Menyebutkan dan menjelaskan klasifikasi kelas kebakaran
d)      Menyebutkan tahapan-tahapan pengembangan api/kebakaran
e)      Menyebutkan dan menjelaskan potensi/penyebab kebakaran
f)        Menyebutkan pencegahan dan penanggulangan kebakaran


BAB II – PEMBAHASAN
2.1    Pengertian
Bekerja di sebuah laboratorium ataupun di perusahaan – perusahaan industri jelas tak bisa lepas dari kemungkinan kecelakaan kerja atau bahaya yang salah satunya adalah kebakaran. Aspek bahaya ini menjadikan pekerja laboratorium ataupun diperusahaan membuat dan menciptakan suatu sistem keselamatan kerja. Selain itu perlu dipahami pula bagaimana proses terjadinya kebakaran, bahan-bahan kimia apa saja yang mudah terbakar serta bagaimana cara penanggulangannya secara benar.
Bahasan ini akan kami uraikan secara lengkap mulai dari definisi api dan kebakaran. Api adalah suatu fenomena yang dapat diamati dengan adanya cahaya dan panas serta adanya proses perubahan zat menjadi zat baru melalui reaksi kimia oksidasi eksotermal. Api terbentuk karena adanya interaksi beberapa unsur/elemen yang pada kesetimbangan tertentu dapat menimbulkan api. Sedangkan,kebakaran yaitu peristiwa bencana yang ditimbulkan oleh api, yang tidak dikehendaki oleh manusia dan bisa mengakibatkan kerugian nyawa dan harta.
Definisi umumnya kebakaran adalah suatu peristiwa terjadinya nyala api yang tidak dikehendaki, sedangkan defenisi khususnya adalah suatu peristiwa oksidasi antara tiga unsur penyebab kebakaran.
Ditinjau dari jenis api, dapat dikategorikan menjadi jenis api jinak dan liar. Jenis api jinak artinya api yang masih dapat dikuasai oleh manusia, sedang jenis api liar tidak dapat dikuasai. Inilah yang dinamakan kebakaran.
Proses kebakaran atau terjadinya api sebenarnya bisa kita baca dari teori segitiga api yang meliputi elemen bahan, panas dan oksigen. Tanpa salah satu  dari ketiga unsur tersebut, api tidak akan muncul. Oksigen sendiri harus membutuhkan diatas 10% kandungan oksigen di udara yang diperlukan untuk memungkinkan terjadinya proses pembakaran.


Kebakaran adalah suatu reaksi oksidasi eksotermis yang berlangsung dengan cepat dari suatu bahan bakar yang disertai dengan timbulnya api/penyalaan.
a.       Tiga unsur penting dalam kebakaran antara lain ;
1.      Bahan bakar dalam jumlah yang cukup. Bahan bakar dengan bahan padat, cair atau uap/gas.
2.      Zat pengoksidasi/oksigen dalam jumlah yang cukup.
3.      Sumber nyala yang cukup untuk menyebabkan kebakaran.
b.      Hal-hal yang perlu diketahui untuk mencegah kebakaran/peledakan ;
·        Sifat-sifat dan bahan-bahan yangdapat terbakar dan meledak.
·        Proses terjadinya kebakaran dan peledakan.
·        Tata cara penanganan dalam upaya mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran dan peledakan.
Sedang mengenai sumber panas bisa muncul dari beberapa sebab antara lain :
  1. Sumber Api Terbuka yaitu penggunaan api yang langsung dalam beraktifitas seperti : masak, las, dll.
  2. Listrik Dinamis yaitu panas yang berlebihan dari sistem peralatan/rangkaian listrik seperti : setrika, atau karena adanya korsleting.
  3. Listrik Statis yaitu panas yang ditimbulkan akibat loncatan ion negatif dengan ion positif seperti : peti.
  4. Mekanis yaitu panas yang ditimbulkan akibat gesekan/benturan benda seperti : gerinda, memaku, dll.
  5. Kimia yaitu panas yang timbul akibat reaksi kimia seperti : karbit dengan air.
Bisa terjadi juga kecenderungan terjadi reaksi kimia akibat adanya elemen ke empat. Inilah yang biasa dinamakan tetrahidral api.


2.2         Pengetahuan Dasar Api
Seperti telah dikemukakan diatas reaksi terjadinya api dari tiga jenis unsur yaitu :
1.      Fuel (Bahan Bakar)
a.       Pengertian bahan bakar
 Yang dimaksud bahan bakar ialah semua jenis benda yang dapat terbakar.
b.      Jenis bahan bakar
Bahan bakar umumnya dubagi atas 3 jenis antara lain jenis bahan bakar padat, bahan bakar gas, dan cair.
                                                              i.      Benda Padat
Bahan bakar padat yang terbakar akan meninggalkan sisa berupa abu atau arang setelah selesai terbakar. Contohnya: kayu, batu bara, plastik, gula, lemak, kertas, kulit dan lain-lainnya.
                                                            ii.      Benda Cair
Bahan bakar cair contohnya: bensin, cat, minyak tanah, pernis, turpentine, lacquer, alkohol, olive oil, dan lainnya.
                                                          iii.      Benda Gas
Bahan bakar gas contohnya: gas alam, asetilen, propan, karbon monoksida, butan, dan lain-lainnya.
c.       Sifat Umum bahan bakar
Setiap jenis bahan bakar mempunyai sifat - sifat khusus,tetapi pada prinsipnya semua jenis bahan bakar mempunyai sifat-sifat umum antara lain mudah terbakar dan dapat terbakar.
2.      Oksigen/O2 (Zat Asam)
a.       Pengertian Oksigen
Suatu jenis gas yang sangat diperlukan dalam proses kehidupan bagi semua mahluk.
b.      Prosentase Oksigen diudara
Udara terdiri dari atas bermacacm - macam gas dengan komposisi sebagai berikut :
·        Gas Nitrogen/N2                       : kurang lebih 78 %
·        Gas Oksigen/O2                       : kurang lebih 21%
·        Gas Karbondioksida/CO2         : kurang lebih 1%  
Jumlah gas oksigen yang prosentasinya 21% inilah yang selalu dibutuhkan untuk proses kehidupan.
c.       Fungsi Oksigen yang terjadinya Api (Pembakaran)
Gas oksigen merupakan salah satu unsur yang harus ada,sehingga tanpa oksigen api tidak dapat terjadi pada keadaan normal, dimana jumlah presentase oksigen diudara adalah 21% merupakan jumlah yang memadai untuk proses terjadinya api. Dan jumlah minimal prosentase oksigen di udara yang masih dapat membantu dalam proses terjadinya api adalah 15%.
3.      Source Of Igition  (Sumber Nyala)
a.       Pengertian Sumber Nyala  dan Sumber Panas
·        Sumber Panas ialah semua benda atau kejadian yang menimbulkan panas.
·        Sumber Nyala ialah semua benda atau kejadian yang menimbulkan Panas pada suatu tingkat temperatur tertentu dan telah dianggap berbahaya bagi timbulnya api/kebakaran.
b.      Terjadinya sumber nyala
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya sumber nyala, antara lain :
·        Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Alam
·        Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Kimia
·        Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Listrik
·        Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Mekanik
·        Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Nuklir


2.3         Klasifikasi Kebakaran/Pengelompokkan Kebakaran
Klasifikasi/Pengelompokkan kebakaran menurut peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 04/MEN/1980 Bab I Pasal 2, ayat 1 adalah sebagai berikut :
1.      Kebakaran Kelas A
Adalah kebakaran yang menyangkut benda-benda padat kecuali logam. Contoh : Kebakaran kayu, kertas, kain, plastik, dsb.
Alat/media pemadam yang tepat untuk memadamkan kebakaran kelas ini adalah dengan : pasir, tanah/lumpur, tepung pemadam, foam (busa) dan air.
2.      Kebakaran Kelas B
Kebakaran bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar.
Contoh : Kerosine, solar, premium (bensin), LPG/LNG, minyak goreng.
Alat pemadam yang dapat dipergunakan pada kebakaran tersebut adalah Tepung pemadam (dry powder), busa (foam), air dalam bentuk spray/kabut yang halus.
3.      Kebakaran Kelas C
Kebakaran instalasi listrik bertegangan. Seperti : Breaker listrik dan alat rumah tangga lainnya yang menggunakan listrik.
Alat Pemadam yang dipergunakan adalah : Karbondioksida (CO2), tepung kering (dry chemical). Dalam pemadaman ini dilarang menggunakan media air.
4.      Kebakaran Kelas D
Kebakaran pada benda-benda logam padat seperti : magnesum, alumunium, natrium, kalium, dsb.
Alat pemadam yang dipergunakan adalah : pasir halus dan kering, dry powder khusus.

Tabel Klasifikasi Kebakaran
RESIKO
MATERIAL
ALAT  PEMADAM
Class A
Kayu, Kertas, Kain
Dry Chemichal Multiporse dan ABC Soda Acid
Class B
Bensin, Minyak Tanah, Varnish
Dry Chemichal Foam (serbuk bubuk), BCF  (Bromoclorodiflour Methane), CO2, dan gas Hallon
Class C
Bahan – bahan seperti asetelin, methane, propane dan gas alam
Dry Chemichal, CO2, gas Hallon dan BCF
Class D
Uranium, magnesium dan titanium
Metal x, metal guard, dry sand dan bubuk pryme

Dari keempat jenis kebakaran tersebut yang jarang ditemui adalah kelas D, biasanya untuk kelas A, B dan C alat pemadamnya dapat digunakan dalam satu tabung/alat, kecuali bila diperlukan jenis khusus.


2.4         Faktor Penyebab Terjadinya Kebakaran
Secara umum, kebakaran disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor manusia dan faktor teknis.
1.      Faktor Manusia
Sebagian besar kebakaran yang disebabkan oleh faktor manusia timbul karena kurang pedulinya manusia tersebut terhadap bahaya kebakaran dan juga kelalaian. Sebagai contoh:
Ø  Pekerja      :           Kelalaian, kurangnya disiplin, dsb.
Ø  Pengelola    :           Minimnya pengawasan, rendahnya perhatian terhadap                           keselamatan kerja, dsb.
a.       Merokok di sembarang tempat, seperti ditempat yang sudah ada tanda “Dilarang Merokok”.
b.      Menggunakan instalasi listrik yang berbahaya, misalnya sambungan yang tidak benar, mengganti sekering dengan kawat.
c.       Melakukan pekerjaan yang berisiko menimbulkan kebakaran tanpa menggunakan pengamanan yang memadai, misalnya mengelas bejana bekas berisi minyak atau bahan yang mudah terbakar.
d.      Pekerjaan yang mengandung sumber gas dan api tanpa tanpa mengikuti persyaratan keselamatan, misalnya memasak menggunakan tabung gas LPG yang bocor dan lain-lain.
2.      Faktor Teknis
Faktor Teknis lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal yang memicu terjadinya kebakaran, misalnya:
Ø  Fisik/mekenis          :           Peningkatan suhu/panas atau adanya api terbuka.
Ø  Kimia                     :           Penanganan, pengangkutan, penyimpanan tidak sesuai                     petunjuk yang ada.
Ø  Listrik                     :           Hubungan arus pendek/korsleting.
a.       Tidak pernah mengecek kondisi instalasi listrik, sehingga banyak kabel yang terkelupas yang berpotensi terjadi korsleting yang bisa memicu terjadinya kebakaran.
b.      Menggunakan peralatan masak yang tidak aman, misalnya menggunakan tabung yang bocor, pemasangan regulator yang tidak benar, dan lain-lain.
c.       Menempatkan bahan yang mudah terbakar didekat api, misalnya meletakkan minyak tanah atau gas elpiji didekat kompor.
d.      Menumpuk kain-kain bekas yang mengandung minyak tanpa adanya sirkulasi udara. Bila kondisi panas, kondisi seperti ini bisa memicu timbulnya api.
3.      Faktor Alam/Bencana Alam
Ø  Petir
Ø  Gunung meletus
Ø  Gempa bumi, dsb
Berikut penggolongan penyebab kebakaran :
1.      Alat, disebabkan karena kualitas alat yang rendah, cara penggunaan yang salah, pemasangan instalasi yang kurang memenuhi syarat. Sebagai contoh : pemakaian daya listrik yang berlebihan atau kebocoran.
2.      Alam, sebagai contoh adalah panasnya matahari yang amat kuat dan terus menerus memancarkan panasnya sehingga dapat menimbulkan kebakaran.
3.      Penyalaan sendiri, sebagai contoh adalah kebakaran gudang kimia akibat reaksi kimia yang disebabkan oleh kebocoran atau hubungan pendek listrik.
4.      Kebakaran disengaja, seperti huru – hara, sabotase dan untuk mendapatkan asuransi ganti rugi.

Tabel  Penyebab Kebakaran
Alam
Kemajuan Teknologi
Perkembangan Penduduk
Matahari
Gempa bumi
Petir
Gunug merapi
Listrik
Biologis
Kimia
Ulah manusia :
- sengaja
- tidak sengaja
- awam (ketidakpahaman)

Penyebab kebakaran dapat dilihat secara mendalam dari beberapa faktor berikut di bawah ini :
1.      Faktor Non Fisik
Lemahnya peraturan perundang – undangan yang ada, serta kurangnya pengawasan terhadap pelaksanaannya (Perda No. 3 Tahun 1992).
a.       Adanya kepentingan yang berbeda antar berbagai instansi yang berkaitan dengan usaha – usaha pencegahan dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran.
b.      Kondisi masyarakat yang kurang mematuhi peraturan perundang – undangan yang berlaku sebagai usaha pencegahan terhadap bahaya kebakaran.
c.       Lemahnya usaha pencegahan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan yang dikaitkan dengan faktor ekonomi, dimana pemilik bangunan terlalu mengejar keuntungan dengan cara melanggar peraturan yang berlaku.
d.      Dana yang cukup besar untuk menanggulangi bahaya kebakaran pada bangunan terutama bangunan tinggi.
2.      Faktor Fisik
a.       Keterbatasan jumlah personil dan unit pemadam kebakaran serta peralatan.
b.      Kondisi gedung, terutama gedung tinggi yang tidak teratur.
c.       Kondisi lalu lintas yang tidak menunjang pelayanan penanggulangan bahaya kebakaran.
2.5         Proses Terjadinya Kebakaran
Terjadinya kebakaran adalah merupakan suatu proses yang berkelanjutan,dimana proses tersebut juga merupakan peristiwa reaksi kimia, dengan unsur - unsur yang terlibat didalamnya antara lain :
1.      Adanya bahan bakar atau benda - benda yang dapat terbakar.
2.      Adanya gas Oksigen/O2 yang jumlah prosentasinya cukup memadai untuk proses pembakaran.
3.      Adanya sumber nyala yang dapat menimbulkan kebakaran.
Rantai Reaksi Kimia
Rantai reaksi kimia adalah peristiwa dimana ketiga elemen yang ada saling bereaksi secara kimiawi, sehingga yang dihasilkan bukan hanya pijar tetapi berupa nyala api atau peristiwa pembakaran.

CH4 + O2 + (X)panas ----> H2O + CO2 + (Y)panas

            Dalam proses kebakaran terjadi rantai reaksi kimia, dimana setelah terjadi proses difusi antara oksigen dan uap bahan bakar, dilanjutkan dengan terjadinya penyalaan dan terus dipertahankan sebagai suatu reaksi kimia berantai, sehingga terjadi kebakaran yang berkelanjutan.
            Proses kebakaran berlangsung melalui beberapa tahapan, yang masing – masing tahapan terjadi peningkatan suhu, yaitu perkembangan dari suatu rendah kemudian meningkat hingga mencapai puncaknya dan pada akhirnya berangsur – angsur menurun sampai saat bahan yang terbakar tersebut habis dan api menjadi mati atau padam. Pada umumnya kebakaran melalui dua tahapan, yaitu :
1.      Tahap Pertumbuhan (Growth Period)
2.      Tahap Pembakaran (Steady Combustion)
            Pada suatu peristiwa kebakaran, terjadi perjalanan yang arahnya dipengaruhi oleh lidah api dan materi yang menjalarkan panas. Sifat penjalarannya biasanya kearah vertikal sampai batas tertentu yang tidak memungkinkan lagi penjalarannya, maka akan menjalar kearah horizontal. Karena sifat itu, maka kebakaran pada gedung – gedung bertingkat tinggi, api menjalar ketingkat yang lebih tinggi dari asal api tersebut.
Saat yang paling mudah dalam memadamkan api adalah pada tahap pertumbuhan. Bila sudah mencapai tahap pembakaran, api akan sulit dipadamkan atau dikendalikan.

Tabel Laju Pertumbuhan Kebakaran
Klasifikasi Pertumbuhan
Waktu Pertumbuhan / Growth Time(detik)
Tumbuh Lambat (Slow Growth)
> 300
Tumbuh Sedang  (Moderete Growth)
150 – 300
Tumbuh Cepat (Fast Growth)
80 – 150
Tumbuh Sangat Cepat (Very Fast Growth)
< 80


2.6         Pola Meluasnya Kebakaran
            Dari segi cara api meluas dan menyala, yang menentukan ialah meluasnya kebakaran. Bedanya antara kebakaran besar dan kebakaran kecil sebetulnya hanya terletak pada cara meluasnya api tersebut.
            Perhitungan secara kuantitatif tentang cara meluasnya kebakaran sukar untuk ditentukan. Tetapi berdasarkan penyelidikan – penyelidikan, kiranya dapat diperkirakan pola cara meluasnya kebakaran itu sebagai berikut :
1.      Konveksi (Convection) atau perpindahan panas karena pengaruh aliran, disebabkan karena molekul tinggi mengalir ke tempat yang bertemperatur lebih rendah dan menyerahkan panasnya pada molekul yang bertemperatur lebih rendah.
Ø  Panas dan gas akan bergerak dengan cepat ke atas (langit – langit atau bagian dinding sebelah atas yang menambah terjadinya sumber nyala yang baru).
Ø  Panas dan gas akan bergerak dengan cepat melalui dan mencari lubang – lubang vertikal seperti cerobong, pipa – pipa, ruang tangga lubang lift, dsb.
Ø  Bila jalan arah vertikal terkekang, api akan menjalar kearah horizontal melalui ruang bebas, ruang langit – langit, saluran pipa atau lubang – lubang lain di dinding.
Ø  Udara panas yang mengembang, dapat mengakibatkan tekanan kepada pintu, jendela atau bahan – bahan yang kurang kuat dan mencari lubang lainnya untuk ditembus.
2.      Konduksi (Conduction)atau perpindahan panas karena pengaruh sentuhan langsung dari bagian temperatur tinggi ke temperatur rendah di dalam suatu medium.
Ø  Panas akan disalurkan melalui pipa – pipa besi, saluran atau melalui unsur kontruksi lainnya diseluruh bangunan.
Ø  Karena sifatnya meluas, maka perluasan tersebut dapat mengakibatkan keretakan di dalam kontruksi yang akan memberikan peluang baru untuk penjalaran kebakaran.
3.      Radiasi (Radiation) atau perpindahan panas yang bertemperatur tinggi kebenda yang bertemperatur rendah bila benda dipisahkan dalam ruang karena pancaran sinar dan gelombang elektromagnetik. Permukaan suatu bangunan tidak mustahil terbuat dari bahan – bahan bangunan yang bila terkena panas akan menimbulkan api.
Ø  Karena udara itu mengembang ke atas, maka langit – langit dan dinding bagian atas akan terkena panas terlebih dahulu dan paling kritis. Bahan bangunan yang digunakan untuk itu sebaiknya ialah yang angka penigkatan perluasan apinya (flame-spread ratings) rendah.
Ø  Nyala mendadak (flash-over)yang disebabkan oleh permukaan dan sifat bahan bangunan yang sangat mudah termakan api, adalah gejala yang umum di dalam suatu kebakaran. Kalau suhu meningkat sampai ± 425° C atau gas – gas yang sudah kehausan zat asam tiba – tiba dapat tambahan zat asam, maka akan menjadi nyala api yang mendadak, dan membesarnya bukan saja secara setempat tetapi meliputi beberapa tempat.
Ø  Sama halnya dengan cerobong sebagai penyalur ke luar dari gas – gas panas yang mengakibatkan adanya bagian kosong udara di dalam ruangan (yang berarti pula menarik zat asam), semua bagian – bagian yang sempit atau lorong – lorong vertikal di dalam bangunan bersifat sebagai cerobong, dan dapat memperbesar nyala api, terutama jika ada kesempatan zat asam membantu pula perluasan api tersebut.
2.7         Bahaya Dan Dampak Kebakaran
Peristiwa kebakaran memberikan efek bahaya antara lain :
1.      Asap
Asap adalah kumpulan partikel zat carbon ukuran kurang dari 0,5 micron sebagai dari pembakaran tak sempurna dan bahan yang mengandung karbon. Efeknya iritasi/rangsangan pada mata, selaput lendir pada hdung, dan kerongkongan.
2.      Panas
Panas adalah suatu bentuk energi yang pada 300 F dapat dikatakan sebagai temperatur tertinggi dimana manusia dapt bertahan/bernafas hanya dalam waktu yang singkat.Efeknya tubuh kehilangan cairan dan tenaga, luka bakar/terbakar pada kulit dan pernafasan, mematikan jantung.
3.      Nyala/Flame
Nyala/Flame bisa timbul pada proses pembakaran sempurna dan membentuk cahaya berliku.
4.      Gas Beracun
Gas beracun antara lain :                                                  
a.       Karbon Monoksida tidak berasa, tidak berbau, tidak berasa NAB 50ppm.
b.      Sulfur Dioksida (SO2) sangat beracun, menyebabkan gejalalambat diri, kerusakan sistem pernafasan seperti bronchitis.
c.       Hidrogen Sulfida (H2S) >NAB 10 ppm.
d.      Ammonia (MH3) >NAB 10ppm.
e.       Hidrogen Sianida (HCN) >NAB 10ppm.
f.        Acrolein (C3H4O) >NAB 0,1ppm.
g.       Gas hasil pembakaran zat sellulosa (kertas, kayu, kain) seperti karbon monoksida, formaldehida, asam formiat, asam karboksitat, metilalkohol, asam asetat, dll.
h.       Gas hasil pembakaran plastik seperti karbon monoksida, asam klorida dan sianida, nitrogen eksida, dll.
i.         Gas hasil pembakaran scliena seperti hidrogen sianida, gas amonia.
j.        Gas hasil pembakaran karet seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, dan asap tebal.
k.      Gas hasil pembakaran wool seperti karbon monoksida, hidrogen sulfida, sulfur dioksida, dan hidrogen sianida.
Gas hasil pembakaran hasil minyak bumi seperti karbon monoksida, karbon dioksida, axcolin, dan asp tebal.
2.8         Mencegah Dan Menanggulangi Kebakaran
1.      Apa yang dimaksud bahaya kebakaran dan penanggulanganya itu ?
Bahaya kebakaran adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya nyala api yang tidak terkendali. Sedangkan, Penanggulangan Kebakaran adalah segala upaya untuk mencegah timbulnya kebakaran dengan berbagai upaya pengendalian setiap perwujudan energi, pengadaan sarana proteksi kebakaran dan sarana penyelamatan serta pembentukan organisasi tanggap darurat untuk memberantas kebakaran.
2.      Apa yang dimaksud dengan pencegahan kebakaran ?
Pencegahan Kebakaran adalah segala usaha yang dilakukan agar tidak terjadi penyalaan api  yang tidak terkendali. Pencegahan kebakaran mengandung 2  pengertian, yaitu:
a.      Penyalaan api belum ada dan usaha pencegahan ditujukan agar tidak terjadi penyalaan api. Contoh dari tindakan ini adalah dengan memisahkan bahan mudah terbakar  pada ruang khusus,membuat aturan pencegahan kebakaran, memasang rambu dilarang merokok, dll.
b.      Penyalaan api sudah ada dan usaha pencegahan ditujukan agar api tidak terkendali. Contoh dari tindakan ini adalah mengatur nyala api di dalam ruang tempa, ketel uap, dapur  pemanas, dll.
            Pencegahan kebakaran  menurut kepmen No.186/Men/1999 adalah mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja yang meliputi :
i)          Pengendalian setiap bentuk energi.
ii)         Penyediaan sarana deteksi, alarm, memadamkan kebakaran dan sarana evakuasi.
iii)       Pengendalian penyebaran asap, panas, dan gas.
iv)       Pembentukan unit penanggulangan kebakaran secara berkala.
v)        Memiliki buku rencana penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi tempat yang berpotensi bahaya kebakaran sedang dan berat.
Dari strategi pemadaman,ada  dua cara penting yang perlu diperhatikan yaitu:
v Teknik Pemadam Kebakaran adalah kemampuan mempergunakan alat dan perlengkapan pemadaman kebakaran dengan sebaik baiknya. Agar menguasai teknik kebakaran maka seseorang harus mempunyai pengetahuan tentang penanggulangan kebakaran, terlatih dan terampil mempergunakan berbagai alat serta perlengkapan kebakaran.
v Taktik Pemadaman Kebakaran adalah kemampuan manganalisis situasi sehingga dapat melakukan tindakan dengan cepat dan tepattanpa menimbulkan kerugian yan lebih besar. Taktikini terkait dengan analisis terhadap unsur – unsur pengaruh angin, warna asap kebakaran, material utama yang terbakar, lokasi, dll.
3.      Apakah penyebab kebakaran itu?
Berbagai sebab kebakaran dapat diklasifikasikan  sebagai kelalaian, kurang
pengetahuan, peristiwa alam, penyalaan sendiri, dan kesengajaan.
a.    Kelalaian
Kelalaian merupakan penyebab terbanyak peristiwa kebakaran. Contoh dari kelalaian ini misalnya : lupa mematikan kompor,merokok ditempat yang tidak semestinya, menempatkan bahan bakar tidak pada tempatnya, mengganti alat pengaman dengan spesifikasi yang tidak tepat dan lain sebagainya.
b.    Kurang pengetahuan
Kurang pengetahuan tentang pencegahan kebakaran merupakan salah satu penyebab kebakaran yang tidak boleh diabaikan. Contoh dari kekurang pengetahuan ini misalnya tidak mengerti akan jenis bahan bakar yang mudah menyala, tidak mengerti tanda tanda bahaya kebakaran, tidak mengerti proses terjadinya api dan sebagainya.
c.    Peristiwa alam
Peristiwa alam dapat menjadi penyebab kebakaran. Contoh : gunung meletus, gempa bumi, petir, panas matahari, dsb.
d.    Penyalaan sendiri
Api bisa terbentuk bila tiga unsur api yaitu bahan bakar, oksigen(biasanya dari udara) dan panas bertemu dan menyebabkan reaksi rantai pembakaran. Contoh kebakaran di hutan, yang disebabkan oleh panas matahari yang menimpa bahan bakar,kering di hutan.
e.    Kesengajaan
Kebakaran juga bias disebabkan oleh kesengajaan misalnya karena unsur sabotase, penghilangan jejak, mengahrap pengganti dari asuransi dsb.
4.      Bagaimana cara menanggulangi kebakaran ?
Telah diketahui bahwa dari suatu kejadian kebakaran dapat menimbulkan bermacam - macam akibat, antara lain korban jiwa dan harta benda.Tentunya kejadian tersebut tidak kita inginkan, oleh karena itu dipikirkan  tindakan dalam penanggulanganya. Pada umumnya penanggulangan bahaya kebakaran dapat dibagi menjadi 3 (tiga) tingkatan meliputi :
a.      Mencegah Terjadinya Kebakaran
Ialah merupakan tindakan – tindakan dilakukan guna mencegah terjadinya kebakaran. Tindakan – tindakan tersebut harus dilakukan oleh setiap orang untuk itu diharapkan pengertian dan kesadaran agar dapat melaksanakan apa yang menjadi tujuan, maka perlu adanya pengarahan dan bimbingan mengenai pencegahan bahaya kebakaran kepada semua orang,khususnya yang berada dilingkungan kerja.
b.      Perlindungan Bahaya Kebakaran
Ialah merupakan tindakan yang dilakukan guna melindungi dari bahaya kebakaran sehingga tidak turut terbakar dalam batas waktu tertentu atau mencegah meluasnya kebakaran ketempat lain sebelum penanggulangan lebih lanjut.
c.      Pemadam Kebakaran
Ialah merupakan salah satu tindakan dalam penanggulangan kebakaran bersifat represif.
5.      Bagaimana cara untuk memadamkan kebakaran ?
             Agar bisa memadamkan secara cepat, perlu dipahami segitiga api seperti yang telah diuraikan diatas yaitu menghilangkan salah satu unsur dari segitiga api.
Selain itu harus ada sarana dan prasarana alat pemadam kebakaran. Alat yang sifatnya tradisional masih bisa dipakai seperti karung goni, pasir, termasuk keperluan komunikasi kentongan dll. Sedangkan, untuk alat pemadam kebakaran yang sifatnya umum antara antara lain Hidrant, Mobil pemadam kebakaran, Alat pemadam api ringan (APAR), sprinkler, dll.
             Disamping itu alat pemadam api lain yang mempunyai sifat sebagai racun api, antara lain karbon dioksida, Bahan Kimia kering multi guna dan bubuk kering. Dari beberapa macam alat pemadam api tersebut masingmasing mempunyai kegunaan dan aturan tersendiri.

Inilah contoh gambar Alat Pemadam Api Ringan (APAR)


2.9         Teori Cara Pemadaman Api
Teori cara memadamkan api ada terbagi beberapa cara yaitu :
1.      Pemadaman dengan cara pendinginan (cooling).
2.      Pemadaman dengan cara mengurangi oksigen (smothering).
3.      Pengambilan/pemindahan bahan bakar (starvation).
4.      Pemutusan rantai reaksi api (break chain reaction).
5.      Melemahkan (dillution).
Alat yang digunakan untuk memadamkan api antara lain :
a.      Alat pemadam api ringan
b.      Sprinkler system
c.      Hydrant system
d.      Mobil PMK
2.10   Media Pemadaman Api
Media pemadam api menurut Jenisnya dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
·        Jenis padat       : misalnya pasir,kain,selimut api, tepung kimia (dry chemical)
·        Jenis cair          : misalnya air, busa
·        Jenis gas           : misalnya gas asam arang (CO2), Halon 1102
Beberapa jenis media pemadam tersebut diterangkan sebagai berikut :
Metode Pemadaman Api
a.         Pasir
Pasir efektif digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B yaitu tumpahan minyak atau ceceran minyak. Tujuan utama dari penggunaan psir ini berfungsi untuk membatasi menjalarnya kebakaran, namun untuk kebakaran kecil dapat digunakan untuk menutupi permukaan bahan yang terbakar sehingga memisahkan udara dari proses nyala yang terjadi, sehingga nyala padam.
b.         Tepung Kimia
Menurut kelas kebakaran yang dipadamkan tepung kimia dibagi menjadi sebagai berikut :
Ø  Tepung kimia reguler (untuk kebakaran kelas B dan C).
Misalnya : Purple K, Plus 50 C, Monnex, Super K.
Ø  Tepung kimia serbaguna (multipurpose), untuk kebakaran kelas ABC. Misalnya :Monoamonium Phosphate (MAP).
Ø  Tepung khusus untuk kebakaran logam (kelas D), misalnya : Met-L-X, TEC, Lith X Powder dll.
Ciri-ciri tepung kimia (dry powder) adalah :
ü  Butiran relatif seragam dengan diameter 15-60 mikron
ü  Tidak beracun
ü  Untuk mencegah sifat higrokopis (mengisap air) dan penggumpalan, serta untuk memberikan daya pengaliran yang lebih baik, maka ditambah “Logam Stearate” serta bahan – bahan tambahan (additives tambahan).
ü  Walaupun cocok untuk kebakaran kelas C (listrik), tetapi dapat merusak instalasi atau peralatan elektronik karena meninggalkan kotoran/kerak.
ü  Bagi manusia, segi bahayanya adalah dapat merusak pandangan dan mengganggu pernafasan.
Cara kerja tepung kimia dalam memadamkan api :
o   Secara fisis, yaitu pemisahan atau penyelimutan bahan bakar dengan udara.
o   Secara kimia, yaitu memutus rantai reaksi pembakaran, dimana partikel – pertikel tepung kimia tersebut akan mengikat radikal hidroksil dari api.
c.         Air
Air cocok untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B. Dalam pemadaman kebakaran air yang paling banyak dipergunakan. Hal tersebut karena air mempunyai keuntungan sebagai berikut :
i)          Mudah didapat dalam jumlah yang banyak
ii)         Murah
iii)       Mudah disimpan, diangkut dan dialirkan
iv)       Dapat dipancarkan dalam berbagai bentuk
v)        Mempunyai daya 'menyerap panas' yang besar, yang menjadi ciri utama dari media pemadam air.
vi)       Mempunyai daya mengembang uap yang tinggi.
Kelemahan air sebagai media pemadam, antara lain :
ü  Menghantar listrik sehingga tidak cocok untuk kelas C.
ü  Berbahaya bagi bahan-bahan kimia yang larut dalam air atau yang eksotherm (menghasilkan panas).
ü  Dapat terjadi 'Slop Over' bila digunakan untuk memadamkan minyak secara langsung.


Cara kerja air dalam pemadaman api adalah secara fisis :
§  Pendinginan, air mempunyai daya serap yang besar. Panas yang diserap dari 15°C sampai 100°C adalah 84,4 kcl/kg (152 BTU/1bbs).
§  Penyelimutan, karena air yang terkena panas akan berubah menjadi uap (steam), dan uap air tersebut kemudian mengurangi kadar oksigen dalam air (dillution).
d.         Busa (Foam)
Busa adalah kumpulan dari gelembung – gelembung cairan (bubbles) yang mengapung diatas permukaan zat cair dan mengalir pada permukaan bahan padat. Dari bentuk fisik busa tersebut maka sangat efektif untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B, terutama pada permukaan yang terbakar sangat luas, sehingga sulit bagi media pemadam lain untuk menjangkau tipe kebakaran tersebut.
            Media pemadam ini terdiri atas 2 jenis yaitu busa kimia maupun busa mekanik. Ditujukan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas B, dan secara terbatas juga untuk kebakaran kelas A.
1.      Busa Kimia
Busa ini terbentuk karena adanya proses (reaksi) kimia antara larutan Aluminium Sulfat dengan larutan natrium bikarbonat.
Reaksinya adalah :

            A12(SO4)3 + 6NaHCO3→ 2A1(OH)3+3Na2SO4 + 6CO2

2.      Busa Mekanik
Busa ini terbentuk karena adanya proses mekanis yaitu berupa adukan dari bahan – bahan pembentuk busa yang terdiri dari cairan busa, air bertekanan, dan udara.
             Untuk melaksanakan proses pembentukan busa ini dipergunakan alat – alat pembentuk busa. Proses pembentukan busa adalah sebagai berikut : Air dicampurkan degan cairan busa sehingga membentuk larutan busa (Foam Solution). Kemudian udara dicampurkan pada larutan busa dengan proses mekanis yaitu adanya pengadukan atau peniupan udara maka terbentuklah busa mekanis.  Bahan baku busa mekanis antara lain : Fluoro Protein (FP70), Fluorocarbon Surfactant (AFFF), Hydrocarbon Surfactant (Louryl Alcohol).
2.11   Alat Pemadam, Karakteristik dan Sifat Pemadamannya
1.      Hydrospray
Alat pemadam dengan air ini umumnya digunakan untuk kebakaran kelas A. Alat ini biasanya dilengkapi dengan penera untuk mengetahui tekanan air. Penera berwarna hijau menunjukkan alat aman untuk digunakan, sedangkan warna merah menunjukkan tekanan sudah berkurang.
2.      Drychemical Powder
Jenis bubuk kering digunakan untuk kelas A,B, C dan D, sedang sifat pemadaman jenis bubuk kering antara lain :
ü  Menyerap panas dan mendinginkan obyek yang terbakar.
ü  Menahan radiasi panas.
ü  Bukan penghantar arus listrik.
ü  Menutup dengan cara melekat pada obyek yang terbakar karena adanya reaksi kimia bahan tersebut saat terjadi kebakaran (reaksi panas api).
ü  Menghambat terjadinya oksidasi pada obyek yang terbakar.
ü  Tidak berbahaya.
ü  Efek samping yang muncul adalah debu dan kotor.
ü  Dapat berakibat korosi dan kerusakan pada mesin ataupun perangkat elektronik.
ü  Sekali pakai pada tiap kejadian.
3.      Gas Cair Hallon Free/AF 11/Halotron 1
Alat pemadam gas cair ini bisa digunakan untuk semua jenis klasifikasi kebakaran. Sifat alat pemadam ini antara lain :
Ø  Bukan penghantar listrik
Ø  Tidak merusak peralatan
Ø  Non Toxic (tidak beracun)
Ø  Bersih tidak meninggalkan bekas
Ø  Memadamkan api dengan cara mengikat O2 disekitar area kebakaran
Ø  Penggunaan yang multi purpose (semua kelas kebakaran)
Ø  Bisa digunakan berulang-ulang
Ø  Lebih tepat digunakan di dalam ruang


4.      Busa Mekanik (Mechanical Foam Extinguisher)
Sistem pendorong ; tekanan dorong diperoleh dari gas CO2, baik dengan cara tabung gas (Gas Cartrige) maupun tekanan tersimpan (Stored Pressure). Konstruksinya terdiri dari berbagai jenis :
·        Tipe gas Cartrige
·        Tipe stored-pressure
·        Pemakaian APAR jenis busa
Pada kepala bejana sering dilengkapi dengan katup pengatur, dan pada nozzle terdapat sistem pengisi ventury untuk memasukkan udara gelembung busa. Keuntungan yang dimiliki APAR tipe ini dibandingkan dengan tipe busa kimia, adalah :
o   Daya pemadamannya tinggi.
o   Aliran busa dapat dikendalikan oleh operator, sehingga memudahkan pemadaman.
o   Sifat karat dari larutannya tidak setinggi alumunium sulfat.
Teknik atau cara penyampaian busa ketempat bakaran adalah :
§  Dinginkan wadah cairan yang terbakar.
§  Selama air masih keluar dari pemancar busa jangan sekali – kali air tersebut
dimasukkan ketempat yang terbakar.
§  Bila busa telah keluar dari pemancar, arahkan ketempat yang terbakar.
§  Pemasukan busa boleh dengan secara gravitasi atau ditembakkan kebagian dalam dinding wadah yang terbakar.
§  Bila api sudah padam, tetap dilakukan pendinginan dan penyemprotan busanya diarahkan keluar dari tempat yang terbakar.
5.      Carbon dioksida
Racun api CO2 ini cocok dan efektif digunakan untuk pemadaman api kelas B dan C. CO2 atau karbondioksida dalam keadaan biasa wujudnya adalah gas yang tidak berwarna, tidak bau, lebih berat dari udara, tidak mengganggu kesehatan (sementara) serta tidak menghantar listrik.
Penggunaan sebagai media pemadam pada kebakaran, cairan CO2 berubah wujudnya menjadi gas dan mengisap panas dari sekelilingnya serta sumber nyala dan mendesak udara keluar dari sekitar sumber serta proses pembakaran. Sebagai cairan CO2 disimpan dalam silinder dengan tekanan 1000-1200 psi.
Digunakan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Umumnya APAR tipe ini mempunyai corong/nozzle penyemprot yang lebar.
Sifat-sifatnya antara lain :
ü  Bersih tidak meninggalkan bekas.
ü  Non Toxide (tidak beracun).
ü  Bukan penghantar listrik.
ü  Tidak merusak peralatan (elektronik/mesin)
ü  Cara pemadaman dengan mendinginkan dan menyelimuti obyek yang terbakar.
ü  Tepat untuk area generator dan instalasi listrik.
ü  Tekanan kerja sangat besar.
Cara-cara pemakaiannya :
v  Turunkan tabung CO2 dari tempatnya.
v  Lepaskan horn dari tempat jepitannya.
v  Putuskan  lead seal (pen pengaman).
v  Pegang horn dengan tangan kiri dan arahkan keatas.
v  Tekan katup dengan tangan kanan (tujuannya untuk mencoba alat ditempat sebelum  menuju kearah api).
v  Bila keadaan baik bawa ketempat kebakaran.
v  Semprotkan dengan mengarahkan horn kearah api dari arah datangnya angin dan usahakan agar menutup keseluruhan daerah permukaan api.
6.      Racun Api Busa
Racun api berupa busa hanya digunakan untuk jenis kebakaran kelas A dan B. Cara kerjanya menyelimuti dan membasahi obyek yang terbakar. Jika obyek yang terbakar benda cair, racun api busa ini bekerja menutup permukaan zat cair. Sifat lainnya yaitu penghantar arus listrik sehingga tidak dapat digunakan pada ruang yang berisi peralatan komponen listrik.
7.      Fire Sprinkler System
Alat ini biasanya terinstal didalam gedung dan bersifat mengandung Hg. Mekanisme kerja sprinkler yaitu secara otomatis akan mengeluarkan air bila kepala sprinkler terkena panas. Prinsip dasar alat ini adalah mampu menyerap kalor yang dihasilkan dari bahan yang terbakar.
8.      Hydrant
Digunakan untuk jenis api kelas A dan B. Secara ringkas, penggunaan media racun api berdasarkan klasifikasi bahan terbakar.
Agar bisa bekerja cepat dalam keadaan darurat perlu diperhitungkan persyaratan dan cara pemasangan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yang antara lain :
·        Tempat mudah dilihat dan dijangkau, tidak boleh digembok atau diikat mati.
·        Jarak jangkauan maksimum 15 m.
·        Tinggi pemasangan maksimum 125 cm.
·        Jenis media dan ukuran sesuai dengan klasifikasi kebakaran dan beban api.
·        Diperiksa secara berkala.
·        Bisa diisi ulang (Refill).
·        Kekuatan konstruksi terstandar.


BAB III – PENUTUP
3.1         Kesimpulan
Api sangat berbahaya bagi manusia maupun alam karena bersifat merusak dan memusnahkan suatu benda. Dari materi yang telah kami sampaikan bahwa kebakaran merupakan kecelakaan yg disebabkan oleh beberapa faktor ; Karena manusia, alam, maupun kedua – duanya. Kebakaran bisa dicegah melalui beberapa cara, di antaranya yaitu mengikuti peraturan yang sudah ditetapkan, misalnya menaruh barang mudah terbakar seperti alkohol atau bahan bakar bensin ke tempat yang teduh dan jauh dari sumber panas. Jika semua itu kita lakukan maka kelak kecelakaan seperti kebakaran pun tak akan pernah terjadi.
3.2         Saran
Kita dapat melakukan upaya tindakan preventif untuk mencegah bahaya kebakaran. Diantaranya adalah :
§  Menjauhkan barang mudah terbakar jauh dari sumber panas atau cahaya matahari.
§  Menggunakan peralatan K3 sebagai upaya perlindungan dari segala bahaya termasuk bahaya kebakaran.
§  Menyediakan Fire Extinguisher atau alat pemadam api di setiap ruangan untuk menghambat penyebaran api jika terjadi kecelaan kebakaran.
§  Selalu mengikuti prosedur dalam melakukan pekerjaan dan tidak ceroboh.
§  Memisahkan barang mudah terbakar ke tempat terbuka agar jauh dari barang – barang berharga dan orang – orang di sekitarnya. Dan bila terjadi kebakaran kelak keselamatan orang – orang dan barang berharga berada di tempat yang aman.
§  Biasakan bersikap hati – hati, waspada dan tidak ceroboh dalam menggunakan barang atau bahan yang mudah terbakar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar