MAKALAH
Faktor
Penyebab Kebakaran dan Penanggulangannya
Nurwahyudi
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena Rahmat dan PertolonganNya kami
dapat menyelesaikan Makalah ini.
Kami menyelesaikan
sebuah makalah yang berisi apa saja Faktor Penyebab Kebakaran dan Bagaimana
saja cara Penanggulangannya. Karena itu kami harapkan agar kiranya Makalah ini
dapat menjadi suatu hal yang positif dan dapat menjadi panduan dan pedoman di
kehidupan sehari-hari kita semua.
Dalam penerapannya,
kami sangat mengharapkan dukungan dan bantuan anda semua agar makalah ini dapat
berperan penting dalam kegiatan sehari-hari kita semua dalam melakukan
pekerjaan, terutama terhadap sesuatu yang berbahaya yaitu “Api”.
Kami juga mengharapkan
peran serta dari seluruh Masyarakat untuk memberikan dukungan dalam makalah
yang berisi Penanggulangan kebakaran ini, terutama bagi yang bekerja di sebuah
Perusahaan Industrial.
Semoga apa yang kami
lakukan dapat menjadi hal yang membawa
dampak baik bagi seluruh Masyarakat Indonesia.
Indramayu, 29 September 2014
Penulis,
Tim Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................................... 1
KATA PENGANTAR........................................................................................................ 2
DAFTAR ISI ..................................................................................................................... 3
BAB I – PENDAHULUAN................................................................................................ 4
Latar Belakang............................................................................................................ 4
Rumusan Masalah........................................................................................................ 5
Tujuan......................................................................................................................... 5
BAB II – PEMBAHASAN................................................................................................. 6
Pengertian.................................................................................................................... 6
Pengetahuan Dasar Api ............................................................................................... 8
Klasifikasi Kebakaran/Pengelompokkan Kebakaran..................................................... 10
Faktor penyebab terjadinya kebakaran......................................................................... 12
Proses
Terjadinya Kebakaran...................................................................................... 14
Pola
Meluasnya Kebakaran......................................................................................... 15
Bahaya
dan Dampak Kebakaran ................................................................................. 18
Mencegah
dan Menanggulangi Kebakaran.................................................................... 19
Teori
Cara Pemadaman Api ........................................................................................ 23
Media
Pemadaman Api................................................................................................ 23
Alat
Pemadam, Karakteristik dan Sifat Pemadamannya................................................ 26
BAB III – PENUTUP......................................................................................................... 30
Kesimpulan ................................................................................................................. 30
Saran .......................................................................................................................... 30
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 31
BAB I –
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Kebakaran adalah suatu
peristiwa yang terjadi akibat tidak terkendalinya sumber energi. Siklus
ini berisi rangkaian demi rangkaian panjang peristiwa (event dinamic) yang
dimulai dari pra kejadian, kejadian dan siklusnya serta konsekuensi yang
mengiringinya. Kejadian tersebut akan tercipta apabila kondisi dan
beberapa syarat pencetusnya terpenuhi, utamanya pada saat pra
kejadian.
Kebakaran
selalu menelan banyak kerugian baik moril, materil bahkan sering kali juga
keselamatan manusia. Bila kebakaran tersebut menimpa fasilitas publik misalnya
Pasar, Pabrik Industri, Gedung Swalayan, Perumahan dan lain sebagainya maka
yang menderita kerugian tentu masyarakat banyak. Di lihat dari segi
rehabilitasi fasilitas maka kecelakaan akibat kebakaran memerlukan waktu yang
relatif lama belum lagi kerugian yang mustahil direcoveri seperti arsip, barang
antic, sertifikat dan lain sebagainya. Oleh karena itu mencegah terjadinya kebakaran
merupakan pilihan utama dalam teknologi penanggulangan kebakaran. Dari sisi
legal formal disebutkan dalam UU No. 1 Tahun 1970 “Dengan perundangan
ditetapkan persyaratan keselamatan kerja untuk mencegah, mengurangi dan
memadamkan kebakaran”. Kemudian diikuti dengan peraturan lain misalnya:
Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.186/MEN/1999
Tentang Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja dan lain sebabagainya
menyebutkan dalam Pasal ayat 1 “Pengurus atau Perusahaan wajib mencegah,
mengurangi dan memadamkan kebakaran, menyelenggarakan latihan penganggulangan
kebakaran di tempat kerja”.
Kebakaran
merupakan kejadian yang tidak diinginkan bagi setiap orang dan kecelakaan yang
berakibat fatal. Kebakaran ini dapat mengakibatkan suatu kerugian yang sangat
besar baik kerugian materil maupun kerugian immateriil. Sebagai contoh kerugian
nyawa, harta, dan terhentinya proses atau jalannya suatu produksi/aktivitas,
jika tidak ditangani dengan segera, maka akan berdampak bagi penghuninya. Jika
terjadi kebakaran orang-orang akan sibuk sendiri, mereka lebih mengutamakan
menyelamatkan barang-barang pribadi daripada menghentikan sumber bahaya
terjadinya kebakaran, hal ini sangat disayangkan karena dengan keadaan yang
seperti ini maka terjadinya kebakaran akan bertambah besar. Dengan adanya
perkembangan dan kemajuan pembangunan yang semakin pesat, resiko terjadinya
kebakaran semakin meningkat. Penduduk semakin padat, pembangunan gedung-gedung
perkantoran, kawasan perumahan, industri yang semakin berkembang sehingga
menimbulkan kerawanan dan apabila terjadi kebakaran membutuhkan penanganan
secara khusus.
1.2
Rumusan Masalah
1)
Apa yang
dimaksud api dan kebakaran?
2)
Apakah yang dimaksud dengan
mencegah dan menanggulangi kebakaran?
3)
Apakah potensi/penyebab
kebakaran itu?
4)
Bagaimanakah cara mencegah
kebakaran?
1.3
Tujuan
a)
Menjelaskan
pengertian api dan kebakaran
b)
Menyebutkan dan
menjelaskan tentang unsur-unsur api serta pemadamannya dan proses terjadinya
api
c)
Menyebutkan dan
menjelaskan klasifikasi kelas kebakaran
d)
Menyebutkan
tahapan-tahapan pengembangan api/kebakaran
e)
Menyebutkan dan
menjelaskan potensi/penyebab kebakaran
f)
Menyebutkan pencegahan dan penanggulangan kebakaran
BAB II – PEMBAHASAN
2.1
Pengertian
Bekerja di sebuah laboratorium
ataupun di perusahaan – perusahaan industri jelas tak bisa lepas dari
kemungkinan kecelakaan kerja atau bahaya yang salah satunya adalah kebakaran.
Aspek bahaya ini menjadikan pekerja laboratorium ataupun diperusahaan membuat
dan menciptakan suatu sistem keselamatan kerja. Selain itu perlu dipahami pula
bagaimana proses terjadinya kebakaran, bahan-bahan kimia apa saja yang mudah
terbakar serta bagaimana cara penanggulangannya secara benar.
Bahasan ini akan kami uraikan secara
lengkap mulai dari definisi api dan kebakaran. Api adalah suatu fenomena yang dapat diamati dengan adanya cahaya
dan panas serta adanya proses perubahan zat menjadi zat baru melalui reaksi
kimia oksidasi eksotermal. Api terbentuk karena adanya interaksi beberapa
unsur/elemen yang pada kesetimbangan tertentu dapat menimbulkan api. Sedangkan,kebakaran yaitu peristiwa bencana yang
ditimbulkan oleh api, yang tidak dikehendaki oleh manusia dan bisa
mengakibatkan kerugian nyawa dan harta.
Definisi umumnya kebakaran adalah
suatu peristiwa terjadinya nyala api yang tidak dikehendaki, sedangkan defenisi
khususnya adalah suatu peristiwa oksidasi antara tiga unsur penyebab kebakaran.
Ditinjau dari jenis api, dapat
dikategorikan menjadi jenis api jinak dan liar. Jenis api jinak artinya api
yang masih dapat dikuasai oleh manusia, sedang jenis api liar tidak dapat
dikuasai. Inilah yang dinamakan kebakaran.
Proses kebakaran atau terjadinya api
sebenarnya bisa kita baca dari teori segitiga api yang meliputi elemen bahan,
panas dan oksigen. Tanpa salah satu dari ketiga unsur tersebut, api tidak
akan muncul. Oksigen sendiri harus membutuhkan diatas 10% kandungan oksigen di
udara yang diperlukan untuk memungkinkan terjadinya proses pembakaran.
Kebakaran adalah
suatu reaksi oksidasi eksotermis yang berlangsung dengan cepat dari suatu bahan
bakar yang disertai dengan timbulnya api/penyalaan.
a.
Tiga unsur penting dalam kebakaran antara lain ;
1.
Bahan bakar dalam jumlah yang cukup. Bahan bakar
dengan bahan padat, cair atau uap/gas.
2.
Zat pengoksidasi/oksigen dalam jumlah yang cukup.
3.
Sumber nyala yang cukup untuk menyebabkan kebakaran.
b.
Hal-hal yang perlu diketahui untuk mencegah
kebakaran/peledakan ;
·
Sifat-sifat dan bahan-bahan yangdapat terbakar dan
meledak.
·
Proses terjadinya kebakaran dan peledakan.
·
Tata cara penanganan dalam upaya mengurangi
kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran dan peledakan.
Sedang mengenai sumber panas bisa muncul dari beberapa
sebab antara lain :
- Sumber Api Terbuka yaitu penggunaan api yang langsung dalam beraktifitas seperti : masak, las, dll.
- Listrik Dinamis yaitu panas yang berlebihan dari sistem peralatan/rangkaian listrik seperti : setrika, atau karena adanya korsleting.
- Listrik Statis yaitu panas yang ditimbulkan akibat loncatan ion negatif dengan ion positif seperti : peti.
- Mekanis yaitu panas yang ditimbulkan akibat gesekan/benturan benda seperti : gerinda, memaku, dll.
- Kimia yaitu panas yang timbul akibat reaksi kimia seperti : karbit dengan air.
Bisa terjadi juga kecenderungan terjadi reaksi kimia
akibat adanya elemen ke empat. Inilah yang biasa dinamakan tetrahidral api.
2.2
Pengetahuan Dasar Api
Seperti
telah dikemukakan diatas reaksi terjadinya api dari tiga jenis unsur yaitu :
1.
Fuel (Bahan
Bakar)
a.
Pengertian bahan bakar
Yang dimaksud bahan bakar ialah semua jenis benda yang dapat terbakar.
Yang dimaksud bahan bakar ialah semua jenis benda yang dapat terbakar.
b.
Jenis bahan bakar
Bahan bakar umumnya dubagi atas 3 jenis antara lain jenis bahan bakar padat, bahan bakar gas, dan cair.
Bahan bakar umumnya dubagi atas 3 jenis antara lain jenis bahan bakar padat, bahan bakar gas, dan cair.
i.
Benda Padat
Bahan bakar padat yang terbakar akan meninggalkan sisa
berupa abu atau arang setelah selesai terbakar. Contohnya: kayu, batu bara, plastik,
gula, lemak, kertas, kulit dan lain-lainnya.
ii.
Benda Cair
Bahan bakar cair contohnya: bensin, cat, minyak tanah,
pernis, turpentine, lacquer, alkohol, olive oil, dan lainnya.
iii.
Benda Gas
Bahan bakar gas contohnya: gas alam, asetilen, propan, karbon monoksida,
butan, dan lain-lainnya.
c.
Sifat Umum bahan bakar
Setiap jenis bahan bakar mempunyai sifat - sifat
khusus,tetapi pada prinsipnya semua jenis bahan bakar mempunyai sifat-sifat
umum antara lain mudah terbakar dan dapat terbakar.
2.
Oksigen/O2 (Zat
Asam)
a.
Pengertian Oksigen
Suatu jenis gas yang sangat diperlukan dalam proses
kehidupan bagi semua mahluk.
b.
Prosentase Oksigen diudara
Udara terdiri dari atas bermacacm - macam gas dengan
komposisi sebagai berikut :
·
Gas Nitrogen/N2 : kurang
lebih 78 %
·
Gas Oksigen/O2 : kurang
lebih 21%
·
Gas Karbondioksida/CO2 : kurang lebih 1%
Jumlah gas
oksigen yang prosentasinya 21% inilah yang selalu dibutuhkan untuk proses
kehidupan.
c.
Fungsi Oksigen yang terjadinya Api (Pembakaran)
Gas oksigen merupakan salah satu unsur yang harus ada,sehingga
tanpa oksigen api tidak dapat terjadi pada keadaan normal, dimana jumlah presentase
oksigen diudara adalah 21% merupakan jumlah yang memadai untuk proses
terjadinya api. Dan jumlah minimal prosentase oksigen di udara yang masih dapat
membantu dalam proses terjadinya api adalah 15%.
3. Source Of
Igition (Sumber Nyala)
a.
Pengertian Sumber
Nyala dan Sumber Panas
·
Sumber Panas ialah semua
benda atau kejadian yang menimbulkan panas.
·
Sumber Nyala ialah semua
benda atau kejadian yang menimbulkan Panas pada suatu tingkat temperatur
tertentu dan telah dianggap berbahaya bagi timbulnya api/kebakaran.
b.
Terjadinya sumber nyala
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya sumber nyala,
antara lain :
·
Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Alam
·
Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Kimia
·
Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Listrik
·
Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Mekanik
·
Sumber nyala terjadi karena proses/peristiwa Nuklir
2.3
Klasifikasi Kebakaran/Pengelompokkan
Kebakaran
Klasifikasi/Pengelompokkan kebakaran menurut peraturan Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Nomor 04/MEN/1980 Bab I Pasal 2, ayat 1 adalah sebagai
berikut :
1. Kebakaran Kelas
A
Adalah kebakaran yang menyangkut benda-benda padat kecuali logam. Contoh
: Kebakaran kayu, kertas, kain, plastik, dsb.
Alat/media pemadam yang tepat untuk memadamkan kebakaran kelas ini
adalah dengan : pasir, tanah/lumpur, tepung pemadam, foam (busa) dan air.
2. Kebakaran Kelas B
Kebakaran bahan bakar cair atau gas yang mudah terbakar.
Contoh : Kerosine, solar, premium (bensin), LPG/LNG, minyak goreng.
Alat pemadam yang dapat dipergunakan pada kebakaran tersebut adalah
Tepung pemadam (dry powder), busa (foam), air dalam bentuk spray/kabut yang
halus.
3. Kebakaran Kelas C
Kebakaran instalasi listrik bertegangan. Seperti : Breaker listrik dan
alat rumah tangga lainnya yang menggunakan listrik.
Alat Pemadam yang dipergunakan adalah : Karbondioksida (CO2), tepung kering (dry
chemical). Dalam pemadaman ini dilarang menggunakan media air.
4. Kebakaran Kelas D
Kebakaran pada benda-benda logam padat seperti : magnesum, alumunium,
natrium, kalium, dsb.
Alat pemadam yang dipergunakan adalah : pasir halus dan kering, dry
powder khusus.
Tabel Klasifikasi Kebakaran
|
RESIKO
|
MATERIAL
|
ALAT
PEMADAM
|
|
Class A
|
Kayu, Kertas, Kain
|
Dry Chemichal Multiporse dan ABC Soda Acid
|
|
Class B
|
Bensin, Minyak Tanah, Varnish
|
Dry Chemichal Foam (serbuk bubuk), BCF (Bromoclorodiflour
Methane), CO2, dan gas Hallon
|
|
Class C
|
Bahan – bahan seperti asetelin, methane, propane dan gas alam
|
Dry Chemichal, CO2, gas Hallon dan BCF
|
|
Class D
|
Uranium, magnesium dan titanium
|
Metal x, metal guard, dry sand dan bubuk pryme
|
Dari
keempat jenis kebakaran tersebut yang jarang ditemui adalah kelas D, biasanya
untuk kelas A, B dan C alat pemadamnya dapat digunakan dalam satu tabung/alat,
kecuali bila diperlukan jenis khusus.
2.4
Faktor Penyebab Terjadinya Kebakaran
Secara umum, kebakaran disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor manusia
dan faktor teknis.
1.
Faktor
Manusia
Sebagian
besar kebakaran yang disebabkan oleh faktor manusia timbul karena kurang
pedulinya manusia tersebut terhadap bahaya kebakaran dan juga kelalaian.
Sebagai contoh:
Ø
Pekerja : Kelalaian,
kurangnya disiplin, dsb.
Ø
Pengelola : Minimnya
pengawasan, rendahnya perhatian terhadap keselamatan
kerja, dsb.
a.
Merokok di sembarang tempat,
seperti ditempat yang sudah ada tanda “Dilarang Merokok”.
b.
Menggunakan instalasi
listrik yang berbahaya, misalnya sambungan yang tidak benar, mengganti sekering
dengan kawat.
c.
Melakukan pekerjaan yang
berisiko menimbulkan kebakaran tanpa menggunakan pengamanan yang memadai,
misalnya mengelas bejana bekas berisi minyak atau bahan yang mudah terbakar.
d.
Pekerjaan yang mengandung
sumber gas dan api tanpa tanpa mengikuti persyaratan keselamatan, misalnya
memasak menggunakan tabung gas LPG yang bocor dan lain-lain.
2.
Faktor Teknis
Faktor
Teknis lebih disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai hal-hal
yang memicu terjadinya kebakaran, misalnya:
Ø
Fisik/mekenis : Peningkatan
suhu/panas atau adanya api terbuka.
Ø
Kimia : Penanganan,
pengangkutan, penyimpanan tidak sesuai petunjuk yang ada.
Ø
Listrik : Hubungan arus pendek/korsleting.
a.
Tidak pernah mengecek
kondisi instalasi listrik, sehingga banyak kabel yang terkelupas yang
berpotensi terjadi korsleting yang bisa memicu terjadinya kebakaran.
b.
Menggunakan peralatan masak
yang tidak aman, misalnya menggunakan tabung yang bocor, pemasangan regulator
yang tidak benar, dan lain-lain.
c.
Menempatkan bahan yang mudah
terbakar didekat api, misalnya meletakkan minyak tanah atau gas elpiji didekat
kompor.
d.
Menumpuk kain-kain bekas
yang mengandung minyak tanpa adanya sirkulasi udara. Bila kondisi panas,
kondisi seperti ini bisa memicu timbulnya api.
3.
Faktor Alam/Bencana Alam
Ø
Petir
Ø
Gunung meletus
Ø
Gempa bumi, dsb
Berikut penggolongan penyebab kebakaran :
1.
Alat, disebabkan
karena kualitas alat yang rendah, cara penggunaan yang salah, pemasangan
instalasi yang kurang memenuhi syarat. Sebagai contoh : pemakaian daya listrik
yang berlebihan atau kebocoran.
2.
Alam, sebagai
contoh adalah panasnya matahari yang amat kuat dan terus menerus memancarkan
panasnya sehingga dapat menimbulkan kebakaran.
3.
Penyalaan sendiri, sebagai contoh adalah kebakaran gudang kimia akibat reaksi kimia yang
disebabkan oleh kebocoran atau hubungan pendek listrik.
4.
Kebakaran disengaja, seperti huru – hara, sabotase dan untuk mendapatkan asuransi ganti rugi.
Tabel Penyebab Kebakaran
|
Alam
|
Kemajuan
Teknologi
|
Perkembangan
Penduduk
|
|
Matahari
Gempa bumi
Petir
Gunug merapi
|
Listrik
Biologis
Kimia
|
Ulah manusia :
- sengaja
- tidak sengaja
- awam (ketidakpahaman)
|
Penyebab kebakaran dapat dilihat secara mendalam dari beberapa faktor
berikut di bawah ini :
1.
Faktor Non Fisik
Lemahnya peraturan
perundang – undangan yang ada, serta kurangnya pengawasan terhadap
pelaksanaannya (Perda No. 3 Tahun 1992).
a.
Adanya kepentingan yang
berbeda antar berbagai instansi yang berkaitan dengan usaha – usaha pencegahan
dan penanggulangan terhadap bahaya kebakaran.
b.
Kondisi masyarakat yang
kurang mematuhi peraturan perundang – undangan yang berlaku sebagai usaha
pencegahan terhadap bahaya kebakaran.
c.
Lemahnya usaha pencegahan
terhadap bahaya kebakaran pada bangunan yang dikaitkan dengan faktor ekonomi,
dimana pemilik bangunan terlalu mengejar keuntungan dengan cara melanggar
peraturan yang berlaku.
d.
Dana yang cukup besar untuk
menanggulangi bahaya kebakaran pada bangunan terutama bangunan tinggi.
2.
Faktor Fisik
a.
Keterbatasan jumlah personil
dan unit pemadam kebakaran serta peralatan.
b.
Kondisi gedung, terutama
gedung tinggi yang tidak teratur.
c.
Kondisi lalu lintas yang
tidak menunjang pelayanan penanggulangan bahaya kebakaran.
2.5
Proses Terjadinya Kebakaran
Terjadinya kebakaran adalah merupakan suatu proses yang berkelanjutan,dimana
proses tersebut juga merupakan peristiwa reaksi kimia, dengan unsur - unsur
yang terlibat didalamnya antara lain :
1.
Adanya bahan bakar atau
benda - benda yang dapat terbakar.
2.
Adanya gas Oksigen/O2
yang jumlah prosentasinya cukup memadai untuk proses pembakaran.
3.
Adanya sumber nyala yang
dapat menimbulkan kebakaran.
Rantai Reaksi Kimia
Rantai reaksi kimia adalah peristiwa dimana ketiga elemen yang ada saling
bereaksi secara kimiawi, sehingga yang dihasilkan bukan hanya pijar tetapi
berupa nyala api atau peristiwa pembakaran.
CH4 + O2 + (X)panas ----> H2O + CO2 + (Y)panas
Dalam proses kebakaran
terjadi rantai reaksi kimia, dimana setelah terjadi proses difusi antara
oksigen dan uap bahan bakar, dilanjutkan dengan terjadinya penyalaan dan terus
dipertahankan sebagai suatu reaksi kimia berantai, sehingga terjadi kebakaran
yang berkelanjutan.
Proses kebakaran
berlangsung melalui beberapa tahapan, yang masing – masing tahapan terjadi
peningkatan suhu, yaitu perkembangan dari suatu rendah kemudian meningkat
hingga mencapai puncaknya dan pada akhirnya berangsur – angsur menurun sampai
saat bahan yang terbakar tersebut habis dan api menjadi mati atau padam. Pada
umumnya kebakaran melalui dua tahapan, yaitu :
1.
Tahap Pertumbuhan (Growth
Period)
2.
Tahap Pembakaran (Steady
Combustion)
Pada suatu peristiwa
kebakaran, terjadi perjalanan yang arahnya dipengaruhi oleh lidah api dan
materi yang menjalarkan panas. Sifat penjalarannya biasanya kearah vertikal
sampai batas tertentu yang tidak memungkinkan lagi penjalarannya, maka akan
menjalar kearah horizontal. Karena sifat itu, maka kebakaran pada gedung –
gedung bertingkat tinggi, api menjalar ketingkat yang lebih tinggi dari asal
api tersebut.
Saat yang paling mudah dalam memadamkan api adalah pada tahap
pertumbuhan. Bila sudah mencapai tahap pembakaran, api akan sulit dipadamkan
atau dikendalikan.
Tabel Laju
Pertumbuhan Kebakaran
|
Klasifikasi
Pertumbuhan
|
Waktu
Pertumbuhan / Growth Time(detik)
|
|
Tumbuh Lambat (Slow Growth)
|
> 300
|
|
Tumbuh Sedang (Moderete Growth)
|
150 – 300
|
|
Tumbuh Cepat (Fast Growth)
|
80 – 150
|
|
Tumbuh Sangat Cepat (Very Fast Growth)
|
< 80
|
2.6
Pola Meluasnya Kebakaran
Dari segi cara api
meluas dan menyala, yang menentukan ialah meluasnya kebakaran. Bedanya antara
kebakaran besar dan kebakaran kecil sebetulnya hanya terletak pada cara
meluasnya api tersebut.
Perhitungan secara
kuantitatif tentang cara meluasnya kebakaran sukar untuk ditentukan. Tetapi
berdasarkan penyelidikan – penyelidikan, kiranya dapat diperkirakan pola cara
meluasnya kebakaran itu sebagai berikut :
1.
Konveksi (Convection) atau perpindahan panas karena pengaruh aliran, disebabkan karena molekul
tinggi mengalir ke tempat yang bertemperatur lebih rendah dan menyerahkan
panasnya pada molekul yang bertemperatur lebih rendah.
Ø
Panas dan gas akan bergerak
dengan cepat ke atas (langit – langit atau bagian dinding sebelah atas yang
menambah terjadinya sumber nyala yang baru).
Ø
Panas dan gas akan bergerak
dengan cepat melalui dan mencari lubang – lubang vertikal seperti cerobong, pipa
– pipa, ruang tangga lubang lift, dsb.
Ø
Bila jalan arah vertikal
terkekang, api akan menjalar kearah horizontal melalui ruang bebas, ruang
langit – langit, saluran pipa atau lubang – lubang lain di dinding.
Ø
Udara panas yang mengembang,
dapat mengakibatkan tekanan kepada pintu, jendela atau bahan – bahan yang
kurang kuat dan mencari lubang lainnya untuk ditembus.
2.
Konduksi (Conduction)atau perpindahan panas karena pengaruh sentuhan langsung dari bagian
temperatur tinggi ke temperatur rendah di dalam suatu medium.
Ø
Panas akan disalurkan
melalui pipa – pipa besi, saluran atau melalui unsur kontruksi lainnya
diseluruh bangunan.
Ø
Karena sifatnya meluas, maka
perluasan tersebut dapat mengakibatkan keretakan di dalam kontruksi yang akan
memberikan peluang baru untuk penjalaran kebakaran.
3.
Radiasi (Radiation) atau perpindahan panas yang bertemperatur tinggi kebenda yang
bertemperatur rendah bila benda dipisahkan dalam ruang karena pancaran sinar
dan gelombang elektromagnetik. Permukaan suatu bangunan tidak mustahil terbuat
dari bahan – bahan bangunan yang bila terkena panas akan menimbulkan api.
Ø
Karena udara itu mengembang
ke atas, maka langit – langit dan dinding bagian atas akan terkena panas
terlebih dahulu dan paling kritis. Bahan bangunan yang digunakan untuk itu
sebaiknya ialah yang angka penigkatan perluasan apinya (flame-spread ratings)
rendah.
Ø
Nyala mendadak (flash-over)yang
disebabkan oleh permukaan dan sifat bahan bangunan yang sangat mudah termakan
api, adalah gejala yang umum di dalam suatu kebakaran. Kalau suhu meningkat
sampai ± 425° C atau gas – gas yang sudah kehausan zat asam tiba – tiba dapat
tambahan zat asam, maka akan menjadi nyala api yang mendadak, dan membesarnya
bukan saja secara setempat tetapi meliputi beberapa tempat.
Ø
Sama halnya dengan cerobong
sebagai penyalur ke luar dari gas – gas panas yang mengakibatkan adanya bagian kosong
udara di dalam ruangan (yang berarti pula menarik zat asam), semua bagian –
bagian yang sempit atau lorong – lorong vertikal di dalam bangunan bersifat
sebagai cerobong, dan dapat memperbesar nyala api, terutama jika ada kesempatan
zat asam membantu pula perluasan api tersebut.
2.7
Bahaya Dan Dampak Kebakaran
Peristiwa kebakaran memberikan efek bahaya antara lain :
1. Asap
Asap
adalah kumpulan partikel zat carbon ukuran kurang dari 0,5 micron sebagai dari
pembakaran tak sempurna dan bahan yang mengandung karbon. Efeknya
iritasi/rangsangan pada mata, selaput lendir pada hdung, dan kerongkongan.
2. Panas
Panas
adalah suatu bentuk energi yang pada 300 F dapat dikatakan sebagai temperatur
tertinggi dimana manusia dapt bertahan/bernafas hanya dalam waktu yang
singkat.Efeknya tubuh kehilangan cairan dan tenaga, luka bakar/terbakar pada
kulit dan pernafasan, mematikan jantung.
3. Nyala/Flame
Nyala/Flame
bisa timbul pada proses pembakaran sempurna dan membentuk cahaya berliku.
4. Gas Beracun
Gas beracun antara lain :
a.
Karbon Monoksida tidak
berasa, tidak berbau, tidak berasa NAB 50ppm.
b.
Sulfur Dioksida (SO2) sangat
beracun, menyebabkan gejalalambat diri, kerusakan sistem pernafasan seperti bronchitis.
c.
Hidrogen Sulfida (H2S)
>NAB 10 ppm.
d.
Ammonia (MH3) >NAB 10ppm.
e.
Hidrogen Sianida (HCN)
>NAB 10ppm.
f.
Acrolein (C3H4O) >NAB
0,1ppm.
g.
Gas hasil pembakaran zat
sellulosa (kertas, kayu, kain) seperti karbon monoksida, formaldehida, asam
formiat, asam karboksitat, metilalkohol, asam asetat, dll.
h.
Gas hasil pembakaran plastik
seperti karbon monoksida, asam klorida dan sianida, nitrogen eksida, dll.
i.
Gas hasil pembakaran scliena
seperti hidrogen sianida, gas amonia.
j.
Gas hasil pembakaran karet
seperti karbon monoksida, sulfur dioksida, dan asap tebal.
k.
Gas hasil pembakaran wool
seperti karbon monoksida, hidrogen sulfida, sulfur dioksida, dan hidrogen
sianida.
Gas hasil pembakaran hasil minyak bumi seperti karbon monoksida, karbon
dioksida, axcolin, dan asp tebal.
2.8
Mencegah Dan Menanggulangi Kebakaran
1.
Apa yang
dimaksud bahaya kebakaran dan penanggulanganya itu ?
Bahaya
kebakaran adalah bahaya yang ditimbulkan oleh adanya nyala
api yang tidak terkendali. Sedangkan, Penanggulangan Kebakaran adalah
segala upaya untuk mencegah timbulnya kebakaran dengan berbagai upaya
pengendalian setiap perwujudan energi, pengadaan sarana proteksi kebakaran dan
sarana penyelamatan serta pembentukan organisasi tanggap darurat untuk
memberantas kebakaran.
2.
Apa yang
dimaksud dengan pencegahan kebakaran ?
Pencegahan Kebakaran adalah segala usaha yang dilakukan agar tidak terjadi penyalaan api yang tidak terkendali. Pencegahan kebakaran
mengandung 2 pengertian, yaitu:
a.
Penyalaan api belum ada dan
usaha pencegahan ditujukan agar tidak terjadi penyalaan api. Contoh dari
tindakan ini adalah dengan memisahkan bahan mudah terbakar pada ruang khusus,membuat aturan pencegahan
kebakaran, memasang rambu dilarang merokok, dll.
b.
Penyalaan api sudah ada dan
usaha pencegahan ditujukan agar api tidak terkendali. Contoh dari tindakan ini
adalah mengatur nyala api di dalam ruang tempa, ketel uap, dapur pemanas, dll.
Pencegahan kebakaran menurut kepmen No.186/Men/1999 adalah
mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran di tempat kerja yang meliputi :
i)
Pengendalian setiap bentuk
energi.
ii)
Penyediaan sarana deteksi,
alarm, memadamkan kebakaran dan sarana evakuasi.
iii)
Pengendalian penyebaran
asap, panas, dan gas.
iv)
Pembentukan unit penanggulangan
kebakaran secara berkala.
v)
Memiliki buku rencana
penanggulangan keadaan darurat kebakaran, bagi tempat yang berpotensi bahaya
kebakaran sedang dan berat.
Dari strategi pemadaman,ada dua
cara penting yang perlu diperhatikan yaitu:
v
Teknik Pemadam Kebakaran adalah kemampuan mempergunakan alat dan perlengkapan pemadaman kebakaran
dengan sebaik baiknya. Agar menguasai teknik kebakaran maka seseorang harus
mempunyai pengetahuan tentang penanggulangan kebakaran, terlatih dan terampil
mempergunakan berbagai alat serta perlengkapan kebakaran.
v
Taktik Pemadaman Kebakaran adalah kemampuan manganalisis situasi sehingga dapat melakukan tindakan dengan
cepat dan tepattanpa menimbulkan kerugian yan lebih besar. Taktikini terkait
dengan analisis terhadap unsur – unsur pengaruh angin, warna asap kebakaran,
material utama yang terbakar, lokasi, dll.
3.
Apakah
penyebab kebakaran itu?
Berbagai
sebab kebakaran dapat diklasifikasikan
sebagai kelalaian, kurang
pengetahuan,
peristiwa alam, penyalaan sendiri, dan kesengajaan.
a. Kelalaian
Kelalaian
merupakan penyebab terbanyak peristiwa kebakaran. Contoh dari kelalaian ini misalnya
: lupa mematikan kompor,merokok ditempat yang tidak semestinya, menempatkan bahan
bakar tidak pada tempatnya, mengganti alat pengaman dengan spesifikasi yang
tidak tepat dan lain sebagainya.
b. Kurang
pengetahuan
Kurang
pengetahuan tentang pencegahan kebakaran merupakan salah satu penyebab
kebakaran yang tidak boleh diabaikan. Contoh dari kekurang pengetahuan ini
misalnya tidak mengerti akan jenis bahan bakar yang mudah menyala, tidak
mengerti tanda tanda bahaya kebakaran, tidak mengerti proses terjadinya api dan
sebagainya.
c. Peristiwa
alam
Peristiwa
alam dapat menjadi penyebab kebakaran. Contoh : gunung meletus, gempa bumi,
petir, panas matahari, dsb.
d. Penyalaan
sendiri
Api bisa
terbentuk bila tiga unsur api yaitu bahan bakar, oksigen(biasanya dari udara)
dan panas bertemu dan menyebabkan reaksi rantai pembakaran. Contoh kebakaran di
hutan, yang disebabkan oleh panas matahari yang menimpa bahan bakar,kering di
hutan.
e. Kesengajaan
Kebakaran
juga bias disebabkan oleh kesengajaan misalnya karena unsur sabotase,
penghilangan jejak, mengahrap pengganti dari asuransi dsb.
4.
Bagaimana
cara menanggulangi kebakaran ?
Telah
diketahui bahwa dari suatu kejadian kebakaran dapat menimbulkan bermacam -
macam akibat, antara lain korban jiwa dan harta benda.Tentunya kejadian
tersebut tidak kita inginkan, oleh karena itu dipikirkan tindakan dalam penanggulanganya.
Pada umumnya penanggulangan bahaya kebakaran dapat dibagi menjadi 3 (tiga)
tingkatan meliputi :
a.
Mencegah Terjadinya
Kebakaran
Ialah
merupakan tindakan – tindakan dilakukan guna mencegah terjadinya kebakaran.
Tindakan – tindakan tersebut harus dilakukan oleh setiap orang untuk itu
diharapkan pengertian dan kesadaran agar dapat melaksanakan apa yang menjadi
tujuan, maka perlu adanya pengarahan dan bimbingan mengenai pencegahan bahaya
kebakaran kepada semua orang,khususnya yang berada dilingkungan kerja.
b.
Perlindungan Bahaya
Kebakaran
Ialah
merupakan tindakan yang dilakukan guna melindungi dari bahaya kebakaran
sehingga tidak turut terbakar dalam batas waktu tertentu atau mencegah meluasnya
kebakaran ketempat lain sebelum penanggulangan lebih lanjut.
c.
Pemadam Kebakaran
Ialah
merupakan salah satu tindakan dalam penanggulangan kebakaran bersifat represif.
5.
Bagaimana
cara untuk memadamkan kebakaran ?
Agar bisa memadamkan secara cepat,
perlu dipahami segitiga api seperti yang telah diuraikan diatas yaitu
menghilangkan salah satu unsur dari segitiga api.
Selain itu harus ada sarana dan prasarana alat pemadam kebakaran. Alat yang sifatnya tradisional masih bisa dipakai seperti karung goni, pasir, termasuk keperluan komunikasi kentongan dll. Sedangkan, untuk alat pemadam kebakaran yang sifatnya umum antara antara lain Hidrant, Mobil pemadam kebakaran, Alat pemadam api ringan (APAR), sprinkler, dll.
Selain itu harus ada sarana dan prasarana alat pemadam kebakaran. Alat yang sifatnya tradisional masih bisa dipakai seperti karung goni, pasir, termasuk keperluan komunikasi kentongan dll. Sedangkan, untuk alat pemadam kebakaran yang sifatnya umum antara antara lain Hidrant, Mobil pemadam kebakaran, Alat pemadam api ringan (APAR), sprinkler, dll.
Disamping itu alat pemadam api lain
yang mempunyai sifat sebagai racun api, antara lain karbon dioksida, Bahan
Kimia kering multi guna dan bubuk kering. Dari beberapa macam alat pemadam api
tersebut masing– masing mempunyai kegunaan dan aturan tersendiri.
Inilah
contoh gambar Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
2.9
Teori Cara Pemadaman Api
Teori cara memadamkan api ada terbagi beberapa cara yaitu :
1.
Pemadaman dengan cara
pendinginan (cooling).
2.
Pemadaman dengan cara
mengurangi oksigen (smothering).
3.
Pengambilan/pemindahan bahan
bakar (starvation).
4.
Pemutusan rantai reaksi api
(break chain reaction).
5.
Melemahkan (dillution).
Alat yang digunakan untuk memadamkan api antara lain :
a.
Alat pemadam api ringan
b.
Sprinkler system
c.
Hydrant system
d.
Mobil PMK
2.10
Media Pemadaman Api
Media pemadam api menurut Jenisnya dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
·
Jenis padat : misalnya pasir,kain,selimut api, tepung
kimia (dry chemical)
·
Jenis cair : misalnya air, busa
·
Jenis gas : misalnya gas asam arang (CO2),
Halon 1102
Beberapa jenis media pemadam tersebut diterangkan sebagai berikut :
Metode Pemadaman Api
a.
Pasir
Pasir efektif digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B yaitu tumpahan minyak atau ceceran minyak. Tujuan utama dari penggunaan psir ini berfungsi untuk membatasi menjalarnya kebakaran, namun untuk kebakaran kecil dapat digunakan untuk menutupi permukaan bahan yang terbakar sehingga memisahkan udara dari proses nyala yang terjadi, sehingga nyala padam.
Pasir efektif digunakan untuk memadamkan kebakaran kelas B yaitu tumpahan minyak atau ceceran minyak. Tujuan utama dari penggunaan psir ini berfungsi untuk membatasi menjalarnya kebakaran, namun untuk kebakaran kecil dapat digunakan untuk menutupi permukaan bahan yang terbakar sehingga memisahkan udara dari proses nyala yang terjadi, sehingga nyala padam.
b.
Tepung Kimia
Menurut
kelas kebakaran yang dipadamkan tepung kimia dibagi menjadi sebagai berikut :
Ø
Tepung kimia reguler (untuk
kebakaran kelas B dan C).
Misalnya : Purple K, Plus 50 C, Monnex, Super K.
Misalnya : Purple K, Plus 50 C, Monnex, Super K.
Ø
Tepung kimia serbaguna
(multipurpose), untuk kebakaran kelas ABC. Misalnya :Monoamonium Phosphate
(MAP).
Ø
Tepung khusus untuk
kebakaran logam (kelas D), misalnya : Met-L-X, TEC, Lith X Powder dll.
Ciri-ciri tepung kimia (dry powder) adalah :
ü
Butiran relatif seragam
dengan diameter 15-60 mikron
ü
Tidak beracun
ü
Untuk mencegah sifat higrokopis
(mengisap air) dan penggumpalan, serta untuk memberikan daya pengaliran yang
lebih baik, maka ditambah “Logam Stearate” serta bahan – bahan tambahan
(additives tambahan).
ü
Walaupun cocok untuk
kebakaran kelas C (listrik), tetapi dapat merusak instalasi atau peralatan
elektronik karena meninggalkan kotoran/kerak.
ü
Bagi manusia, segi bahayanya
adalah dapat merusak pandangan dan mengganggu pernafasan.
Cara kerja tepung kimia dalam memadamkan api :
o Secara fisis, yaitu pemisahan atau penyelimutan bahan bakar dengan
udara.
o Secara kimia, yaitu memutus rantai reaksi pembakaran, dimana
partikel – pertikel tepung kimia tersebut akan mengikat radikal hidroksil dari
api.
c.
Air
Air cocok untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B. Dalam pemadaman kebakaran air yang paling banyak dipergunakan. Hal tersebut karena air mempunyai keuntungan sebagai berikut :
Air cocok untuk memadamkan kebakaran kelas A dan B. Dalam pemadaman kebakaran air yang paling banyak dipergunakan. Hal tersebut karena air mempunyai keuntungan sebagai berikut :
i)
Mudah didapat dalam jumlah
yang banyak
ii)
Murah
iii)
Mudah disimpan, diangkut dan
dialirkan
iv)
Dapat dipancarkan dalam
berbagai bentuk
v)
Mempunyai daya 'menyerap
panas' yang besar, yang menjadi ciri utama dari media pemadam air.
vi)
Mempunyai daya mengembang
uap yang tinggi.
Kelemahan air sebagai media pemadam, antara lain
:
ü
Menghantar listrik sehingga
tidak cocok untuk kelas C.
ü
Berbahaya bagi bahan-bahan
kimia yang larut dalam air atau yang eksotherm (menghasilkan panas).
ü
Dapat terjadi 'Slop Over'
bila digunakan untuk memadamkan minyak secara langsung.
Cara kerja
air dalam pemadaman api adalah secara fisis :
§
Pendinginan, air
mempunyai daya serap yang besar. Panas yang diserap dari 15°C sampai 100°C
adalah 84,4 kcl/kg (152 BTU/1bbs).
§
Penyelimutan, karena
air yang terkena panas akan berubah menjadi uap (steam), dan uap air tersebut
kemudian mengurangi kadar oksigen dalam air (dillution).
d.
Busa (Foam)
Busa
adalah kumpulan dari gelembung – gelembung cairan (bubbles) yang mengapung
diatas permukaan zat cair dan mengalir pada permukaan bahan padat. Dari bentuk
fisik busa tersebut maka sangat efektif untuk memadamkan kebakaran kelas A dan
B, terutama pada permukaan yang terbakar sangat luas, sehingga sulit bagi media
pemadam lain untuk menjangkau tipe kebakaran tersebut.
Media pemadam ini terdiri atas 2
jenis yaitu busa kimia maupun busa mekanik. Ditujukan terutama untuk memadamkan
kebakaran kelas B, dan secara terbatas juga untuk kebakaran kelas A.
1. Busa Kimia
Busa ini
terbentuk karena adanya proses (reaksi) kimia antara larutan Aluminium Sulfat
dengan larutan natrium bikarbonat.
Reaksinya
adalah :
A12(SO4)3
+ 6NaHCO3→ 2A1(OH)3+3Na2SO4 + 6CO2
2. Busa Mekanik
Busa ini terbentuk
karena adanya proses mekanis yaitu berupa adukan dari bahan – bahan pembentuk
busa yang terdiri dari cairan busa, air bertekanan, dan udara.
Untuk melaksanakan proses
pembentukan busa ini dipergunakan alat – alat pembentuk busa. Proses pembentukan
busa adalah sebagai berikut : Air dicampurkan degan cairan busa sehingga
membentuk larutan busa (Foam Solution). Kemudian udara dicampurkan pada larutan
busa dengan proses mekanis yaitu adanya pengadukan atau peniupan udara maka
terbentuklah busa mekanis. Bahan baku busa mekanis antara lain : Fluoro Protein
(FP70), Fluorocarbon Surfactant (AFFF), Hydrocarbon Surfactant (Louryl Alcohol).
2.11
Alat Pemadam, Karakteristik dan
Sifat Pemadamannya
1.
Hydrospray
Alat pemadam dengan air ini umumnya digunakan untuk kebakaran kelas A. Alat ini biasanya dilengkapi dengan penera untuk mengetahui tekanan air. Penera berwarna hijau menunjukkan alat aman untuk digunakan, sedangkan warna merah menunjukkan tekanan sudah berkurang.
Alat pemadam dengan air ini umumnya digunakan untuk kebakaran kelas A. Alat ini biasanya dilengkapi dengan penera untuk mengetahui tekanan air. Penera berwarna hijau menunjukkan alat aman untuk digunakan, sedangkan warna merah menunjukkan tekanan sudah berkurang.
2.
Drychemical Powder
Jenis bubuk kering digunakan untuk kelas A,B, C
dan D, sedang sifat pemadaman jenis bubuk kering antara lain :
ü
Menyerap panas dan
mendinginkan obyek yang terbakar.
ü
Menahan radiasi panas.
ü
Bukan penghantar arus
listrik.
ü
Menutup dengan cara melekat
pada obyek yang terbakar karena adanya reaksi kimia bahan tersebut saat terjadi
kebakaran (reaksi panas api).
ü
Menghambat terjadinya
oksidasi pada obyek yang terbakar.
ü
Tidak berbahaya.
ü
Efek samping yang muncul
adalah debu dan kotor.
ü
Dapat berakibat korosi dan
kerusakan pada mesin ataupun perangkat elektronik.
ü
Sekali pakai pada tiap
kejadian.
3.
Gas Cair Hallon Free/AF 11/Halotron 1
Alat pemadam gas cair ini bisa digunakan untuk semua jenis klasifikasi kebakaran. Sifat alat pemadam ini antara lain :
Alat pemadam gas cair ini bisa digunakan untuk semua jenis klasifikasi kebakaran. Sifat alat pemadam ini antara lain :
Ø
Bukan penghantar listrik
Ø
Tidak merusak peralatan
Ø
Non Toxic (tidak beracun)
Ø
Bersih tidak meninggalkan
bekas
Ø
Memadamkan api dengan cara
mengikat O2 disekitar area kebakaran
Ø
Penggunaan yang multi
purpose (semua kelas kebakaran)
Ø
Bisa digunakan
berulang-ulang
Ø
Lebih tepat digunakan di
dalam ruang
4. Busa Mekanik
(Mechanical Foam Extinguisher)
Sistem pendorong ; tekanan dorong diperoleh dari gas CO2, baik
dengan cara tabung gas (Gas Cartrige) maupun tekanan tersimpan (Stored
Pressure). Konstruksinya terdiri dari
berbagai jenis :
·
Tipe gas Cartrige
·
Tipe stored-pressure
·
Pemakaian APAR jenis busa
Pada kepala bejana sering dilengkapi dengan katup pengatur, dan pada
nozzle terdapat sistem pengisi ventury untuk memasukkan udara gelembung busa.
Keuntungan yang dimiliki APAR tipe ini dibandingkan dengan tipe busa kimia,
adalah :
o
Daya pemadamannya tinggi.
o
Aliran busa dapat
dikendalikan oleh operator, sehingga memudahkan pemadaman.
o
Sifat karat dari larutannya
tidak setinggi alumunium sulfat.
Teknik atau cara penyampaian busa ketempat bakaran adalah :
§
Dinginkan wadah cairan yang
terbakar.
§
Selama air masih keluar dari
pemancar busa jangan sekali – kali air tersebut
dimasukkan ketempat yang terbakar.
dimasukkan ketempat yang terbakar.
§
Bila busa telah keluar dari
pemancar, arahkan ketempat yang terbakar.
§
Pemasukan busa boleh dengan
secara gravitasi atau ditembakkan kebagian dalam dinding wadah yang terbakar.
§
Bila api sudah padam, tetap
dilakukan pendinginan dan penyemprotan busanya diarahkan keluar dari tempat
yang terbakar.
5. Carbon
dioksida
Racun api CO2 ini cocok dan efektif digunakan untuk pemadaman api kelas B
dan C. CO2 atau karbondioksida dalam keadaan biasa wujudnya adalah
gas yang tidak berwarna, tidak bau, lebih berat dari udara, tidak mengganggu
kesehatan (sementara) serta tidak menghantar listrik.
Penggunaan sebagai media pemadam pada kebakaran, cairan CO2
berubah wujudnya menjadi gas dan mengisap panas dari sekelilingnya serta sumber
nyala dan mendesak udara keluar dari sekitar sumber serta proses pembakaran.
Sebagai cairan CO2 disimpan dalam silinder dengan tekanan 1000-1200
psi.
Digunakan terutama untuk memadamkan kebakaran kelas B dan C. Umumnya APAR
tipe ini mempunyai corong/nozzle penyemprot yang lebar.
Sifat-sifatnya antara lain :
ü
Bersih tidak meninggalkan
bekas.
ü
Non Toxide (tidak beracun).
ü
Bukan penghantar listrik.
ü
Tidak merusak peralatan
(elektronik/mesin)
ü
Cara pemadaman dengan
mendinginkan dan menyelimuti obyek yang terbakar.
ü
Tepat untuk area generator
dan instalasi listrik.
ü
Tekanan kerja sangat besar.
Cara-cara pemakaiannya :
v
Turunkan tabung CO2
dari tempatnya.
v
Lepaskan horn dari tempat
jepitannya.
v
Putuskan lead seal
(pen pengaman).
v
Pegang horn dengan tangan
kiri dan arahkan keatas.
v
Tekan katup dengan tangan
kanan (tujuannya untuk mencoba alat ditempat sebelum menuju kearah api).
v
Bila keadaan baik bawa
ketempat kebakaran.
v
Semprotkan dengan
mengarahkan horn kearah api dari arah datangnya angin dan usahakan agar menutup
keseluruhan daerah permukaan api.
6. Racun Api
Busa
Racun api berupa busa hanya digunakan untuk jenis kebakaran kelas A dan
B. Cara kerjanya menyelimuti dan membasahi obyek yang terbakar. Jika obyek yang
terbakar benda cair, racun api busa ini bekerja menutup permukaan zat cair.
Sifat lainnya yaitu penghantar arus listrik sehingga tidak dapat digunakan pada
ruang yang berisi peralatan komponen listrik.
7. Fire Sprinkler
System
Alat ini biasanya terinstal didalam gedung dan bersifat mengandung Hg.
Mekanisme kerja sprinkler yaitu secara otomatis akan mengeluarkan air bila
kepala sprinkler terkena panas. Prinsip dasar alat ini adalah mampu menyerap
kalor yang dihasilkan dari bahan yang terbakar.
8. Hydrant
Digunakan untuk jenis api kelas A dan B. Secara ringkas, penggunaan media racun api berdasarkan klasifikasi bahan terbakar.
Digunakan untuk jenis api kelas A dan B. Secara ringkas, penggunaan media racun api berdasarkan klasifikasi bahan terbakar.
Agar bisa bekerja cepat dalam keadaan darurat perlu diperhitungkan
persyaratan dan cara pemasangan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yang antara lain
:
·
Tempat mudah dilihat dan
dijangkau, tidak boleh digembok atau diikat mati.
·
Jarak jangkauan maksimum 15
m.
·
Tinggi pemasangan maksimum
125 cm.
·
Jenis media dan ukuran
sesuai dengan klasifikasi kebakaran dan beban api.
·
Diperiksa secara berkala.
·
Bisa diisi ulang (Refill).
·
Kekuatan konstruksi
terstandar.
BAB III –
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Api sangat berbahaya bagi
manusia maupun alam karena bersifat merusak dan memusnahkan suatu benda. Dari
materi yang telah kami sampaikan bahwa kebakaran merupakan kecelakaan yg
disebabkan oleh beberapa faktor ; Karena manusia, alam, maupun kedua – duanya.
Kebakaran bisa dicegah melalui beberapa cara, di antaranya yaitu mengikuti
peraturan yang sudah ditetapkan, misalnya menaruh barang mudah terbakar seperti
alkohol atau bahan bakar bensin ke tempat yang teduh dan jauh dari sumber
panas. Jika semua itu kita lakukan maka kelak kecelakaan seperti kebakaran pun
tak akan pernah terjadi.
3.2
Saran
Kita dapat melakukan upaya
tindakan preventif untuk mencegah bahaya kebakaran. Diantaranya adalah :
§
Menjauhkan barang mudah
terbakar jauh dari sumber panas atau cahaya matahari.
§
Menggunakan peralatan K3
sebagai upaya perlindungan dari segala bahaya termasuk bahaya kebakaran.
§
Menyediakan Fire
Extinguisher atau alat pemadam api di setiap ruangan untuk menghambat
penyebaran api jika terjadi kecelaan kebakaran.
§
Selalu mengikuti prosedur
dalam melakukan pekerjaan dan tidak ceroboh.
§
Memisahkan barang mudah
terbakar ke tempat terbuka agar jauh dari barang – barang berharga dan orang –
orang di sekitarnya. Dan bila terjadi kebakaran kelak keselamatan orang – orang
dan barang berharga berada di tempat yang aman.
§
Biasakan bersikap hati –
hati, waspada dan tidak ceroboh dalam menggunakan barang atau bahan yang mudah
terbakar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar